News
36

Pemanfaatan Jerami Jadi Kompos, Upaya Petani Sungai Penuh Tekan Emisi dan Cegah Kebakaran Lahan

Sungai Penuh, 21 April 2026 — Upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) terus dilakukan melalui berbagai kegiatan di sektor pertanian. Salah satunya melalui pemanfaatan jerami menjadi kompos sebagai bagian dari praktik pencegahan dan penanganan kebakaran lahan usaha tani.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Provinsi Jambi melalui UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura, dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Berjaya di Desa Koto Beringin, Kecamatan Hamparan Rawang, Kota Sungai Penuh. Kelompok yang diketuai oleh Nasiah ini menjadi contoh keterlibatan aktif perempuan dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan, khususnya pada indikator yang berkaitan dengan kesetaraan gender.

Program ini dilaksanakan sebanyak tiga kali melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) yang diikuti oleh 15 peserta. Para peserta mendapatkan pendampingan langsung dari petugas lapangan, termasuk Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), POPT-PHP, serta penyuluh pertanian.

Tahapan kegiatan dimulai dari persiapan, yang meliputi sosialisasi dan koordinasi dengan dinas terkait serta kelompok tani penerima. Dalam tahap ini, peserta diberikan pemahaman mengenai bahaya pembakaran jerami, dampaknya terhadap lingkungan, serta sanksi yang dapat dikenakan. Selain itu, petani juga diberikan panduan teknis sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Pada tahap pelaksanaan, petani melakukan praktik langsung pembuatan trichokompos jerami dengan ukuran sekitar 1 x 1 x 10 meter di lahan mereka. Kegiatan ini mencakup pemberian materi mengenai manfaat kompos jerami, praktik pembuatan, hingga aplikasi kompos di lahan pertanian. Selanjutnya, dilakukan evaluasi untuk melihat efektivitas penggunaan kompos dalam mendukung pencegahan kebakaran lahan.

Selain itu, kegiatan juga dilengkapi dengan pembinaan berkelanjutan, termasuk pendampingan administrasi kelompok serta penguatan kapasitas petani agar mampu menerapkan praktik ini secara mandiri dan berkelanjutan.

Dalam penerapannya di lapangan, proses pengomposan dilakukan langsung di area sawah setelah panen, sehingga kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan saat pengolahan tanah berikutnya. Proses ini membutuhkan waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan dan memerlukan ketersediaan air yang cukup.

Sebagai bagian dari pengelolaan agroekosistem, petani juga didorong untuk menanam tanaman refugia, seperti bunga tagetes, bunga kertas, dan bunga matahari kecil. Tanaman ini berfungsi sebagai habitat musuh alami hama, sehingga dapat membantu mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman secara alami.

Melalui kegiatan ini, diharapkan petani tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan serta mencegah terjadinya kebakaran lahan di wilayah pertanian.