Menerima Bantuan Peningkatan Kapasitas Petani berupa Bimtek Pengolahan Pupuk Organik dan Alsintan Mesin APPO (Alat Pencacah Pupuk Organik)
Kelompok Tani ini memiliki peternakan Domba yang menghasilkan kotoran sebagai bahan untuk pupuk organik, setelah menerima peningkatan kapasitas melalui PIU DTPHP tentang tata cara pembuatan pupuk organik yang baik menggunakan Mesin APPO, kelompok tani ini mampu menghasilkan pupuk organik yang dapat digunakan sendiri bagi lahan pertaniannya sehingga tidak memerlukan lagi pupuk kimia dan hasil sayurannya menjadi produk organik.
Selain itu, pupuk organik produksi kelompok tani ini juga dijual kepada petani lain di sekitar Desa Sei Lalang seharga Rp.60.000 / karung, sehingga dapat meningkatkan pendapatan keuangan kelompok tani Sumber Makmur ini.
—-
Dengan pengurangan penggunaan pupuk kimiawi, maka diharapkan jejak karbon pada lahan pertanian dapat berkurang.
Pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) pada sektor pertanian. Konsep pertanian berkelanjutan bertumpu pada tiga pilar, yaitu ekonomi, sosial, dan ekologi.
https://www.instagram.com/reel/C4Pm4UdyyP3/?igsh=MXdwYTgybzdkaWRiNg==
Kegiatan Penetapan Calon Petani dan Calon Lokasi Penerima Bantuan Benih Kayu Manis Siap Tanam di Kabupaten Merangin Kegiatan Rempah dan Penyegar Komoditi Perkebunan (BioCF) Dinas Perkebunan Provinsi Jambi di Desa Rantau Kermas, Lokasi total penanaman seluas 44 Ha. Jumlah bibit yang diberikan kepada masyarakat sebanyak 22.000 Bibit dengan Jenis bibit yaitu bibit Kayu Manis siap tanam, Penanaman dilaksanakan oleh 25 orang anggota kelompok tani, pembagian bibit disesuaikan dengan luas lokasi penanaman. Penanaman juga dilaksanakan sesuai dengan rencana awal, yaitu ditanam diantara tanaman kopi, dalam jangka waktu kurang lebih satu setengah tahun, bibit Kayu Manis sudah tumbuh setinggi kurang lebih dua meter.
Kegiatan Mengembangkan pengembangan bisnis model community untuk mata pencaharian alternatif sub kegiatan penanaman Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Desa Muara Madras, Lokasi penanaman seluas 50 Ha berada di dalam areal Hutan Lindung Bukit Muncung Gamut. Kegiatan ini memeberikan dampak positif untuk memperbaiki, meningkatkan dan mempertahankan kondisi lahan agar dapat berfungsi secara optimal, baik sebagai unsur produksi, penunjang perekonomian masyarakat dan sebagai media pengatur tata air maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungan
Jumlah bibit yang diberikan kepada masyarakat sebanyak 77.000 Bibit dengan Jenis bibit yaitu bibit Kayu Manis, Bibit Petai, Bibit Surian, Bibit Bambang Lanang, Bibit Durian dan Bibit Alpokat. Penanaman dilaksanakan oleh 42 orang anggota kelompok tani, pembagian bibit disesuaikan dengan luas lokasi penanaman.
Rata-rata persentase tanaman yang hidup pada masing-masing lokasi tanam yaitu sekitar ±70% dan ±30% mati yaitu bibit Bambang lanang dan bibit surian. Hal ini dikarenakan waktu penanaman yang tidak tepat. Penanaman dilaksanakan saat El Nino sehingga memicu penurunan kualitas tanaman, penyebaran hama dan penyakit tanaman.
Pemeliharaan tanaman diantaranya pemupukan tanaman menggunakan pupuk kompos organik dan penyulaman, penjarangan serta penyiangan akan dilakukan pada semester I tahun 2024.
Selain itu, akses ke lokasi penanaman cukup sulit yang hanya bisa menggunakanan kendaraan roda dua dan jalan tanah mengakibatkan kematian dan kerusakan bibit saat proses pengangkutan ke lokasi tanam.
Dalam rangka Implementasi Penuh Sistem MAR BioCF-ISFL tahun 2024 terkait pelaporan penghitungan Emission Reduction (ER) serta Menindaklanjuti pertemuan analisa penghitungan nilai akurasi dan identifikasi data perubahan penutupan lahan Provinsi Jambi tanggal 23 s.d 24 Februari 2024, maka dilakukan pertemuan lanjutan Bidang MAR untuk menyelesaikan penghitungan nilai akurasi dan penyelesaian penyiapan data perubahan penutupan lahan Provinsi Jambi.
Dalam rangka mendukung aksi Perubahan Iklim di Provinsi Jambi melalui implementasi Program BioCF-ISFL Provinsi Jambi Kegiatan Legalisasi dan Dukungan Operasional Kelembagaan Perubahan Iklim, maka dilaksanakan FGD Opltimalisasi Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Provinsi Jambi Tahun 2024 dengan mengundang perangkat daerah sektor: (i)kehutanan dan lahan gambut, (ii)pertanian, (iii)energi, (iv)transportasi, (v)pengelolaan limbah, dan (vi) pesisir dan laut.
Guna mewujudkan Indonesia yang setara dengan negara maju, diperlukan Transformasi Ekonomi melalui Ekonomi Hijau yang meletakkan Pembangunan Rendah Karbon dan Pembangunan Berketahanan Iklim sebagai tulang punggung. Ekonomi Hujau merupakan suatu model pembangunan yang mensinergikan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan. Melalui Implementasi yang tepat, Ekonomi Hijau akan menjadi alat (tools) yang dibutuhkan untuk mentrasformasi aktivitas ekonomi menjadi lebih berkelanjutan dan inklusif.
Intervensi Ekonomi Hijau dengan Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim akan mampu mendorong pertumbuhan PDB rata-rata tahun 2025-2045 sebesar 6,22% dan Kebijakan Ekonomi Hijau dengan pembanungan rendah karbon dan berketahanan iklim mampu membawa Indoesia mencapai Ner Zero Emissions pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Dalam Rangka Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan kegiatan Program BioCarbon Fund Plus-Initiative For Sustainable Landscape Management Project (JSLMP) Provinsi Jambi Tahun 2024, maka dilaksanakan Focus GrGroup Discussion (FGD) yang membahas Rencana Monitoring dan Evaluasi (Monev Plan) untuk Annual Work Plan (AWP) Tahun 2024 dalam rangka peningkatan kapasitas para pihak dalam mendukung program ini.
Dalam rangka mendukung aksi Perubahan Iklim di Provinsi Jambi melalui implementasi Program BioCF-ISFL Provinsi Jambi yang telah memasuki tahun ketiga fase Pre-Investment dimana telah menunjukkan hasil yang cukup signitlkan dalam memenuhi kelengkapan dan persyaratan yang dibutuhkan untuk mengunduh fase Result Based Payment (RBP). Untuk itu, guna memenuhi kelengkapan proses lainnya maka diperlukan dukungan dan komitmen dari Pemerintah Kab/Kota se-Provinsi Jambi dan stakeholder lainnya terhadap Program BioCF-ISFL Provinsi Jambi.
Untuk di tahun 2024, tiap OPD akan melaksanakan kegiatan yang sudah direncanakan, seperti:
1. Bappeda, akan melakukan penguatan kebijakan satu peta, penguatan regulasi dan institusi, dan menyiapkan kelembagaan REDD++ seperti MAR, BSM, Safeguard dan Monev.
2. Dinas LH akan melaksanakan penguatan kebijakan untuk Masyarakat Hutan Adat (MHA) berupa Perda, Pelaksanaan FPIC/Padiatapa (persetujuan dimuka tanpa paksaan) kepada seluruh masyarakat dalam melaksanakan program BioCF, dan Penguatan Kapasitas dan pengembangan Desa Proklim
3. Dinas TPHP melaksanakan pelatihan SMART Agriculture pertanian rendah emisi, fasilitasi kerjasama antara kelompok tani dengan swasta
4. Dinas perkebunan akan mendorong adanya sertifikasi ISPO mandiri dengan tujuan untuk mengetahui asal usul bibt sawit, pengelolaan usaha perkebunan berkelanjutan untuk mendukung RAN/RAD Sawit berkelanjutan, melakukan pencegahan kebakaran di sektor perkebunan, dan meningkatkan kapasitas petani menuju SMART Agriculture
4. Dinas Kehutanan dan KPH akan melaksanakan pengamanan awasan hutan alam tersisa seperti patroli dan penyuluhan, pengembangan Agroforestry, dan Rehabilitasi Lahan dan Hutan (Pengadaan bibit dan penanaman partisipatif)
Program Kampung Iklim (ProKlim) telah diluncurkan sebagai gerakan nasional pengendalian perubahan iklim berbasis komunitas oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Tanggal1 Desember 2016. ProKlim yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012, bertransformasi dari memberikan apresiasi terhadap wilayah administratif paling rendah setingkat RW/dusun dan paling tinggi setingkat kelurahan/desa, menjadi mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya Kampung Iklim melalui pengayaan inovasi program adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim yang dilaksanakan secara kolaborasi antara pemerintah dengan Stakeholder.
Proklim dilakukan dalam rangka mendorong masyarakat untuk melakukan peningkatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca serta memberikan penghargaan terhadap upaya-upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilaksanakan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah.
Melalui ProKlim diharapkan upaya peningkatan ketahahan terhadap dampak negatif perubahan iklim sekaligus pengurangan emisi gas rumah kaca atau GRK dapat dilakukan mulai dari tingkat tapak.
Upaya pemerintah untuk memenuhi target Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC), sektor Forestry and Land Use (FOLU) telah menetapkan target ambisius FOLU NetSink 2030 dengan REDD+ sebagai program penting dalam mendukung pencapaian target FOLU NetSink. Untuk memenuhi dan melaksanakan komitmen ini, perlu peran manajemen pengelolaan dana Iingkungan hidup yang balk melalui pendanaan yang terintegrasi, dalam hal ini Dalam memenuhi dan melaksanakan komitmen dan optimalisasi pendanaan ini Pemerintah Indonesia telah menunjuk Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) sebagai pengelola dana.
Dalam rangka percepatan implementasi pengelolaan dana lingkungan hidup agar penggunaan dana dapat disalurkan secara tepat sasaran balk di pusat dan daerah, Ketua SNPMU BioCF-ISFL menghadiri "Pertemuan Nasional REDD+: Optimalisasi Pemanfaatan Dana RBP REDD+"
Kegiatan penanaman pohon merupakan upaya konkrit dan strategis dalam mengatasi triple planetary crisis yaitu, perubahan iklim, polusi dan ancaman kehilangan keanekaragaman hayati. Ketiganya saling terkait dan sangat mendesak untuk diatasi.
Pohon memiliki manfaat multiguna untuk manusia dan seluruh makhluk hidup. Bukan hanya menyediakan oksigen, tetapi juga menjadi tempat penyimpanan karbon yang tidak dimiliki oleh makhluk 3 hidup lainnya di bumi. Keberadaan pohon untuk kelangsungan hidup manusia dan alam semesta, berperan penting dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca, sumber kehidupan mahluk hidup, menyimpan air, menjaga suhu udara, meredam kebisingan, dan mengurangi kekuatan angin.
Keberadaan pohon dan tutupan lahan yang baik akan meningkatkan daya dukung alam dalam mitigasi perubahan iklim, ketahanan pangan, energi dan kesejahteraan seluruh mahluk hidup. Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berkomitmen untuk mengurangi emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya melalui Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
Jumlah bibit yang akan ditanam dalam kegiatan penanaman serentak ini adalah sebanyak 317 Batang, dengan jenis tanaman meliputi: