Berita
19

Bimtek Pasca Panen Tingkatkan Kualitas dan Tata Kelola Hasil Padi di Desa Tebing Tinggi Uleh

Desa Tebing Tinggi Uleh, Kecamatan Tanah Tumbuh, menjadi lokasi pelaksanaan Bombingan Teknis (Bimtek) Pasca Panen Tahun Anggaran 2024 yang difasilitasi oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP). Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kapasitas kelompok tani dalam pengelolaan hasil panen padi agar lebih tertata, efisien, dan bernilai ekonomi lebih baik.

Saat ini, sistem penyimpanan padi masih dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing anggota kelompok tani. Adapun varietas yang dibudidayakan adalah padi Afari, dengan siklus tanam dari benih hingga panen berlangsung sekitar 3 bulan 10 hari. Meski praktik budidaya telah berjalan cukup baik, pengelolaan pasca panen sebelumnya masih bersifat sederhana dan belum terstandarisasi.

Dalam sisi diskusi bersama narasumber, kelompok tani menyampaikan sejumlah kendala yang masih dihadapi di lapangan. Keterbatasan fasilitas gudang penyimpanan menjadi persoalan utama, sehingga hasil panen belum dapat dikelola secara kolektif. Selain itu, belum tersedianya kendaraan pengangkut hasil panen seperti motor roda tiga menyulitkan proses distribusi dari lahan ke tempat penyimpanan maupun ke pembeli. Kelompok ini juga belum memiliki mesin penggiling padi (huller), sehingga pengolahan gabah menjadi beras masih bergantung pada pihak lain.

Meski demikian, pelaksanaan Bimtek memberikan dampak positif yang nyata. Anggota kelompok tani mengakui bahwa setelah mengikuti pelatihan, sistem penyimpanan dan pengelolaan pasca panen menjadi lebih tertata. Penanganan gabah dilakukan dengan lebih hati-hati untuk menjaga kualitas, sehingga hasil panen yang diperoleh pun mengalami peningkatan mutu. Pengetahuan baru terkait teknis pengeringan, penyimpanan, hingga manajemen hasil panen dinilai sangat membantu dalam meminimalisir kehilangan hasil (losses) dan menjaga stabilitas harga jual.

Secara produktivitas, kelompok tani di Desa Tebing Tinggi Uleh mengelola lahan seluas 20 hektar yang dibagi secara proporsional di antara para anggota. Dalam satu kali panen, setiap hektar mampu menghasilkan sekitar 6-7 ton padi. Panen dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Juni dan Desember. Hasil panen dijual dalam bentuk gabah dengan harga rata-rata sekitar Rp6.500 per kilogram, dan pengelolaannya dilakukan langsung oleh masing-masing anggota.

Dengan capaian tersebut, produktivitas padi di wilayah ini tergolong cukup tinggi dan memiliki potensi untuk terus ditingkatkan apabila didukung oleh saran dan prasarana yang memadai.

Sebagai tindak lanjut, kelompok tani berharap adanya keberlanjutan program Bimtek di tahun-tahun mendatan, termasuk dukungan bantuan sarana produksi pertanian. Untuk tahun 2025, kelompok ini telah menerima alokasi bantuan bibit sebanyak 4 kuintal dari dinas terkait, serta memperoleh seragam sebagai bagian dari kegiatan Bimtek. Bantuan tersebut diharapkan dapat semakin memotivasi anggota kelompok dalam meningkatkan kinerja dan memperkuat kelembagaan tani.

Melalui sinergi antara pemerintarh daerah dan kelompok tani, diharapkan sistem pengelolaan pasca panen di Desa Tebing Tinggi Uleh dapat terus berkembang, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.