Berita
6

Petani Kopi Kerinci Didorong Naik Kelas Lewat Standarisasi, Hilirisasi, dan Penguatan Kelembagaan

Kerinci, 16 April 2026 — Upaya meningkatkan daya saing kopi daerah terus dilakukan melalui sinergi antara pemerintah daerah, koperasi, dan petani. Hal ini terlihat dalam kegiatan pembinaan dan penguatan sektor kopi yang mencakup penerapan standar budidaya, pengolahan, hingga strategi hilirisasi produk.

Pemerintah Kabupaten Kerinci menegaskan komitmennya dalam pengembangan kopi sebagai komoditas unggulan daerah. Dalam arah kebijakan pembangunan sektor perkebunan tahun 2026, kopi menjadi fokus utama dengan pendekatan peningkatan nilai tambah dan daya saing. Produksi kopi Arabika di Kerinci tercatat mencapai sekitar 5.584 ton per tahun, dengan luas lahan hampir 3.000 hektare, menjadikannya salah satu komoditas ekspor andalan.

Selain itu, pemerintah juga mendorong hilirisasi produk, dari yang sebelumnya hanya menjual biji mentah (green bean), kini berkembang ke produk olahan seperti roasted bean dan ground coffee. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi serta memperluas akses pasar global.

Di tingkat petani, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Manufacturing Practices (GMP) menjadi kunci peningkatan kualitas. GAP menekankan praktik budidaya yang baik mulai dari pemilihan bibit unggul, pemupukan, hingga panen selektif (petik merah). Sementara itu, GMP berfokus pada pengolahan pascapanen seperti sortasi, fermentasi, pengeringan hingga penyimpanan agar mutu kopi tetap terjaga.

“Jika GAP dan GMP diterapkan dengan baik, kualitas kopi meningkat dan harga jual juga lebih tinggi,” ungkap Yenni Efnita, S.Pt dalam kegiatan bimbingan teknis di Kabupaten Kerinci.

Namun demikian, tantangan di lapangan masih cukup besar. Serangan hama dan penyakit menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produktivitas. Penyakit karat daun (Hemileia vastatrix), jamur upas, hingga hama seperti penggerek buah kopi kerap menyebabkan penurunan hasil bahkan gagal panen.

Untuk mengatasi hal tersebut, petani didorong menerapkan pengendalian terpadu, seperti sanitasi kebun, pemangkasan rutin, penggunaan varietas unggul tahan penyakit, serta pemanfaatan agen hayati.

Di sisi lain, peran kelembagaan petani juga semakin diperkuat. Salah satunya melalui Koperasi Koerintji Barokah Bersama (KKBB) yang telah berkembang pesat sejak berdiri pada 2017. Kini, koperasi tersebut memiliki sekitar 250 anggota dan mampu menembus pasar ekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, hingga Uni Emirat Arab.

Tak hanya fokus pada bisnis, koperasi ini juga aktif dalam program keberlanjutan lingkungan, seperti penerapan sistem agroforestri dan penanaman pohon di kawasan sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara produksi kopi dan kelestarian alam.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, koperasi, dan petani, sektor kopi Kerinci diharapkan terus berkembang menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya berdaya saing tinggi, tetapi juga berkelanjutan.