Berita
21

Generasi Muda Jambi Berbagi Inspirasi Menjaga Lanskap Hutan dan Desa

Jambi, 16 Juni 2026 - Semangat menjaga lingkungan dan lanskap hutan jambi dengan cara masing-masing kaum muda Jambi menjadi benang merah dalam kegiatan Youth Talk: Peran Generasi Muda dalam Pengelolaan Lanskap Jambi yang diselenggarakan Program BioCF-ISFL Jambi pada 10 Juni 2026 di Kota Jambi. Sebanyak 57 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, komunitas pemuda, organisasi masyarakat sipil, hingga perwakilan pemerintah daerah muda hadir untuk belajar langsung dari para anak muda yang telah mengambil peran nyata dalam pengelolaan lanskap berkelanjutan di Jambi.

Melalui suasana diskusi yang hangat dan interaktif, para peserta diajak melihat bahwa menjaga hutan dan lingkungan tidak hanya dilakukan oleh polisi hutan atau petugas konservasi. Setiap orang dapat berkontribusi melalui berbagai profesi dan bidang yang ditekuni, mulai dari ekowisata, pendidikan, pertanian, pendampingan masyarakat, hingga media digital.

Diskusi yang dipandu oleh praktisi media - komunikasi lingkungan dan isu-isu pembangunan, Musfarayani, menghadirkan lima narasumber muda inspiratif, yaitu Dozer Holizar (Ketua Pokdarwis Rawa Bento), Tiara Tamara Surya (Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Bukit Duabelas), Pantas Aldi Brilian Manalu (Polisi Kehutanan Taman Nasional Berbak-Sembilang), Sariani, APHP Ahli Muda Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Provinsi Jambi, serta Afifi Atfi, kreator konten dan pegiat pendidikan lingkungan.

Salah satu kisah yang menarik perhatian peserta datang dari Dozer Holizar. Sebagai sarjana muda, ia memilih kembali ke kampung halamannya di kawasan Rawa Bento, Kabupaten Kerinci. Bersama pemuda desa dan masyarakat setempat, ia mengembangkan ekowisata sebagai sarana menjaga kelestarian kawasan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Melalui dukungan berbagai pihak, termasuk Taman Nasional Kerinci Seblat dan Program BioCF-ISFL Jambi, inisiatif tersebut terus berkembang. Saat ini, ekowisata Rawa Bento tidak hanya menjadi destinasi wisata alam yang dikenal wisatawan domestik namun juga mancanegara. Keberadaan ekowisata yang dikelola Dozer dan kawan-kawannya telah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui jasa wisata, usaha kuliner, hingga kerajinan berbahan eceng gondok yang dikelola kelompok perempuan.

Menurut Dozer, anak muda memiliki peluang besar untuk membangun daerahnya sendiri apabila mampu melihat potensi yang ada di sekitarnya.

“Banyak hal yang bisa dilakukan di kampung sendiri. Yang penting berani memulai dan terus belajar. Jangan lupa berkolaborasi,” ujarnya.

Inspirasi lain datang dari Tiara Tamara Surya yang sehari-hari bertugas sebagai Pengendali Ekosistem Hutan di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Para peserta muda yang mendengar langsung menyebutnya sebagai “Avatar”. Membuat semuanya tertawa. Tiara terlihat bangga dengan sebutan tersebut. Tiara pun melanjutkan cerita pengalamannya mendampingi komunitas Orang Rimba \, indigenous people yang tinggal di dalam TNBD. memperlihatkan bahwa pelestarian kawasan hutan dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat.

Melalui dukungan Program BioCF-ISFL Jambi, TNBD mengembangkan berbagai kegiatan yang mendorong rehabilitasi lahan, penguatan ekonomi berbasis hasil hutan bukan kayu, serta pemberdayaan perempuan Orang Rimba.

Salah satu hasil yang berkembang adalah keterampilan perempuan Orang Rimba dalam memproduksi kerajinan tangan yang kini menjadi salah satu cenderamata khas kawasan. Selain memberikan nilai ekonomi, kegiatan tersebut juga membantu menjaga pengetahuan dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Tiara juga mengajak mahasiswa dan perguruan tinggi untuk lebih dekat dengan kawasan konservasi melalui penelitian, praktik lapangan, maupun kegiatan pengabdian masyarakat.

“Banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari hutan, termasuk tentang hubungan manusia dengan alam dan pentingnya menjaga keberlanjutan bagi generasi mendatang,” katanya.

Menjadi Penjaga Ekosistem Gambut Pesisir

Dari bentang alam pesisir timur Jambi, Pantas Aldi Brilian Manalu berbagi pengalamannya sebagai Polisi Kehutanan di Taman Nasional Berbak-Sembilang, salah satu kawasan ekosistem gambut penting di Indonesia bahkan dunia.

Menurut Aldi, menjaga kawasan yang luas dan memiliki karakteristik unik seperti Berbak-Sembilang membutuhkan kerja sama yang erat antara petugas lapangan dan masyarakat. Karena itu, kolaborasi dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) dan kelompok masyarakat lainnya menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan kawasan.

Dukungan Program BioCF-ISFL Jambi turut memperkuat kegiatan patroli lapangan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta berbagai upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Peserta tampak antusias ketika Aldi membagikan pengalaman pertamanya saat melakukan patroli lapangan. Cerita tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kawasan konservasi membutuhkan kedisiplinan, kerja sama tim, dan penghormatan terhadap satwa liar di habitat alaminya.

Sementara itu, Sariani dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Provinsi Jambi mengajak peserta melihat sektor pertanian dari perspektif yang lebih modern dan menjanjikan.

Melalui dukungan Program BioCF-ISFL Jambi, berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan telah dilakukan untuk memperkuat praktik pertanian yang produktif sekaligus berkelanjutan di sekitar kawasan hutan.

Menurutnya, banyak komoditas unggulan Jambi yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan oleh generasi muda melalui inovasi produk, pemasaran digital, maupun agribisnis berbasis teknologi.

“Bertani bukan sekadar pekerjaan tradisional. Pertanian memiliki peluang besar untuk menjadi profesi masa depan yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.

Narasumber lainnya, Afifi Atfi, menunjukkan bahwa kontribusi terhadap lingkungan juga dapat dilakukan melalui jalur pendidikan dan media digital.

Kepeduliannya berawal dari upaya meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak di komunitas Orang Rimba dan wilayah terpencil di Jambi. Bersama para relawan, ia terus mendampingi kegiatan belajar sekaligus memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan positif tentang lingkungan dan pendidikan.

Menurutnya, setiap anak muda memiliki ruang kontribusi yang berbeda. Tidak harus bekerja di sektor kehutanan untuk ikut menjaga lingkungan.

“Media sosial, pendidikan, dan berbagai platform kreatif bisa menjadi sarana untuk membangun kesadaran dan menginspirasi lebih banyak orang,” ujarnya.

Membuka Perspektif Baru bagi Generasi Muda

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Sedikitnya sepuluh pertanyaan diajukan kepada para narasumber, bahkan diskusi terus berlanjut setelah sesi resmi berakhir.

Banyak peserta mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pengelolaan lanskap dan pembangunan berkelanjutan. Mereka memahami bahwa menjaga hutan dan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan perlindungan kawasan, tetapi juga menyangkut pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, pendidikan, dan keterlibatan generasi muda.

“Saya baru tahu potensi pengembangan ekowisata seperti di Rawa Bento. Menarik sekali melihat bagaimana upaya pelestarian lingkungan juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Muhammad Sofyan, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Bahari.

Peserta lainnya, Ali Syahab Hanif dari Program Studi Agrobisnis Universitas Jambi, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru mengenai kolaborasi yang dilakukan berbagai pihak bersama masyarakat sekitar hutan dan Orang Rimba.

“Diskusi ini membuka wawasan saya bahwa banyak upaya kolaboratif yang dilakukan untuk mendukung masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Saya jadi tertarik untuk belajar lebih jauh tentang isu-isu tersebut,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Program BioCF-ISFL Jambi menunjukkan bahwa pengelolaan lanskap yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk generasi muda. Berbagai kisah yang dibagikan para narasumber memperlihatkan bahwa menjaga hutan dan lingkungan dapat dimulai dari berbagai peran dan profesi.

Mulai dari mengembangkan ekowisata, mendampingi masyarakat, menjaga kawasan konservasi, mengembangkan pertanian berkelanjutan, hingga memanfaatkan media digital untuk menyebarkan inspirasi. Semua langkah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun masa depan lanskap Jambi yang lestari, produktif, dan berkelanjutan. (***)