Berita
19

Bimtek Pasca Panen BioCF di Tanjab Timur, Petani Didorong Tekan Susut Hasil hingga 30 Persen.

Tanjung Jabung Timur – Pertemuan I Bimbingan Teknis (Bimtek) Pasca Panen BioCF dalam rangka pelaksanaan hibah BioCF ISFL Provinsi Jambi digelar pada Senin (29/4/2024) di rumah Ketua Kelompok Tani (KT) Sumber Makmur, Desa Suka Maju, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB tersebut diikuti 15 peserta, terdiri dari dua orang petugas dinas kabupaten, satu orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Suka Maju, serta 12 anggota kelompok tani. Dari total peserta, sembilan orang merupakan laki-laki dan enam orang perempuan. Petugas dinas kabupaten dan PPL turut berperan sebagai pemandu lapang dalam sesi praktik.

Acara diawali dengan pembacaan doa oleh anggota kelompok tani, kemudian dilanjutkan sambutan dari Tim Provinsi yang disampaikan oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi, Khairul Asrori, SP, M.Si. Selanjutnya, pembukaan dan pengarahan disampaikan oleh Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Edival, SP.

Dalam arahannya, Edival menekankan pentingnya mengikuti bimtek secara serius guna meningkatkan kompetensi petani, khususnya dalam penanganan panen padi yang baik dan benar. "Dengan penanganan yang tepat, diharapkan beras yang dihasilkan lebih bermutu dan mampu bersaing dengan produksi dari luar daerah," ujarnya.

Materi bimtek disampaikan oleh narasumber dari dinas provinsi, dinas kabupaten, serta Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Provinsi Jambi. Materi yang diberikan meliputi Pedoman Pelaksanaan Bimtek Pasca Panen (Good Handling Practices/GHP) Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Teknik Penanganan Panen Padi (GHP) oleh PMHP Ahli Muda BSIP Provinsi Jambi Desi Nofriati, SP, M.Si, serta pemaparan tentang titik kritis aspek panen seperti waktu dan cara panen.

Selain itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai alat dan kriteria panen padi sawah serta pembahasan berbagai permasalahan umum komoditas pertanian. Disebutkan bahwa secara teoritis susut cecer atau keilangan hasil dapat terjadi pada setiap tahapan, mulai dari panen hingga penyimpanan, dengan kisara 30-35 persen, Dalam satu petak ubinan, kehilangan hasil bahkan dapat mencapai satu kilogram gabah. Kondisi ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kacar akobat proses metabolisme yang menghasilkan gas karbon.

Secara umu, kendala yang dihadapi petani KT Sumber Makmur saat panen terjadi pada musim hujan, ketika lahan persawahan tergenang air pasang. Kondisi ini menyebabkan panen dilakukan di dalam air dan proses pengeringan gabah dapat memakan waktu hingga satu bulan, sehingga beras yang dihasilkan cenderung berwarna kemerahan.

Pada pelaksanaan bimtek kali ini, praktik lapang panen tidak dapat dilakukan karena telah melewati masa panen. Sebagai gantinya, teknik panen yang baik ditampilkan melalui media video. Diketahui, kegiatan panen di kelompok ini masih dilakukan secara gotong royong dengan cara tradisional menggunakan sabit dan perontokan menggunakan power thresher pinjaman dari brigade. Pengeringan gabah dilakukan secara manual dengan penjemuran di atas terpal.

Dalam sesi praktik penyimpanan, terungkap bahwa kondisi gundang atau tempat penyimpanan gabah milik anggota kelompok tani masih belum memadai. Karung gabah disimpan tanpa palet, menempel ke dinding, serta bercampur dengan komoditas lain dan peralatan rumah tangga, Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kelembaban dan mempercepat kerusakan gabah, sehingga kualitas beras menjadi rendah dan banyak menghasilkan beras patah.

Sebagai solusi, narasumber menekankan pentingnya penggunaan alas kayu atau palet di bawah karung, penyusunan karung tidak menempel dinding, serta disusun menyerupai pola bata untuk menjaga sirkulasi udara.

KT Sumber Makmur sendiri merupakan kelompok tani yang mengusahakan padi sebagai komoditas utama dengan luas lahan produktif sekitar 20 hektare dan intensitas tanam dua kali setahun (IP 200). Produksi padi rata-rata mencapai 5 ton per hektare.

Melalui Bimtek Pasca Panen BioCF yang direncanakan berlangsung dua kali pertemuan di setiap lokasi, petani diharapkan semakin memahami kriteria panen dan teknin penanganan pasca panen yang baik. Dengan demikian, angka kehilangan hasil dapat ditekan dan kualitas beras yang dihasilkan semakin meningkat.