Tanjung Jabung Timur – Pertemuan II Bimbingan Teknis (Bimtek) Pascapanen BioCF dalam rangka pelaksanaan Hibah BioCF ISFL Provinsi Jambi digelar pada Senin (6/5/2024) di rumah Ketua Kelompok Tani (KT) Sumber Makmur, Desa Suka Maju, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Bimtek I yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Sebanyak 15 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri dari 2 orang petugas dinas kabupaten, 11 orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Suka Maju, serta 12 anggota kelompok tani. Dari total peserta, 9 orang berjenis kelamin laki-laki dan 6 orang perempuan. Petugas dinas dan PPL juga berperan sebagai pemandu dalam praktik lapangan.
Materi pertama mengenai Pedoman Penanganan Pascapanen Hasil Pertanian Asal Tanaman yang Baik disampaikan oleh perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Pertenakan, Khairul Asrori, SP, M.Si. Selanjutnya, Tahapan Penanganan Pascapanen Padi dipaparkan oleh PMHP Ahli Muda dari Badan Standardisasi Instrumen Pertanian, Desi Nofriati, SP, M.Si. Materi tentang Titik Kritis Good Handling Practices (GHP) pada aspek penerimaan, penimbangan, pembersihan, sortasi dan grading disampaikan oleh Kabid Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Ir. Mahmud. Sementara itu, Titik Kritis GHP pada aspek pengemasan, pelabelan, penyimpanan dan pengelolaan peralatan disampaikan oleh PPL Desa Suka Maju, Rts. Ayu Wulandari.
Dalam pemaparan materi yang ditegaskan bahwa peningkatan produksi padi harus diiringi dengan penanganan pascapanen yang tepat. Penanganan yang kurang baik berpotensi menyebabkan kehilangan hasil (susut), penurunan mutu gabah dan beras, serta turunnya rendemen giling. Tahapan
Pada tahun pemanenan, narasumber menjelaskan pentingnya panen pada umur optimal, yakni saat 90-95 persen gabahh pada malai telah menguning keemasan atau sekitar 30-35 hari setelah berbunga rata, setara 135-140 hari setelah tanam, dengan kadar air 22-23 persen di musim kemarau dan 24-26 persen dimusim hujan. Penggunaan alat panen seperti sabit bergerigi tajam juga dinilai mampu menekan kehilangan hasil hingga 3 persen.
Kebiasaan petani yang menumpuk hasil panen tanpa alas dan menunda perontokan dinilai berisiko menimbulkan susut hasil antara 0,94 hingga 2,36 persen. Selain itu, gabah yang baru dipanen masih mengalami proses respirasi yang menghasilkan panas dan uap air sehingga berpotensi menurunkan mutu apabila tidak segera ditangani. Narasumber menganjurkan agar perontokan segera dilakukan dan pemupukan tidak lebih dari satu malam dengan tinggi maksimal satu meter.
Dalam proses pengeringan, peserta diingatkan pentingnya menurunkan kadar air gabah hingga 14 persen agar aman disimpan. Selama ini, kelompok tani masih menjemur gabah di lahan dan jalan desa menggunakan terpal. Idealnya, penjemuran dilakukan di lantai jemur yang datar agar hasil pengeringan merata. Proses pembersihan dan sortasi juga penting untuk meningkatkan daya simpan, rendemen giling dan harga jual.
Pada sesi praktik lapangan di gudang RMU Gapoktan, peserta melakukan penjemuran, penampian, serta penghitungan susut hasil yang tercatat sebesar 36,75 persen. Hasil pengamatan di gudang menunjukkan penyimpanan belum sesuai standar, seperti alas penyimpanan yang rendah, susunan karung yang menempel ke dinding dan belum menggunakan pola susun bata, serta kebersihan gudang yang perlu ditingkatkan.
Praktik penggilingan gabah menjadi beras juga dilakukan untuk menghitung rendemen. Varietas Inpara menghasilkan rendemen sebesar 63,75 persen, sedangkan varietas Sultan dengan sistem tanam jajar legowo mencapai 69,23 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa penanganan dan sistem budidaya turut memengaruhi capaian rendemen beras.
Kegiatan ditutup dengan diskusi kelompok dan post test berisi 20 soal pilihan ganda. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan pengetahuan peserta terhadap penanganan pascapanen padi yang baik. Melalui Bimtek ini, diharapkan petani KT Sumber Makmur mampu menerapkan teknik pascapanen yang tepat guna menekan kehilangan hasil serta meningkatkan mutu dan nilai jual beras.